Minggu, 09 Februari 2014

Fotografi dalam Dunia Komunikasi



PENTINGNYA FOTOGRAFI DALAM DUNIA KOMUNIKASI
Oleh: Ramdan Junaeni


PENDAHULUAN
Komunikasi merupakan suatu proses penyampaian informasi (pesan, ide, gagasan) dari satu pihak kepada pihak lain. Pada umumnya, komunikasi dilakukan secara lisan atau verbal yang dapat dimengerti oleh kedua belah pihak. Menurut Onong Uchjana Effendy, Komunikasi adalah proses penyampaian pesan oleh seseorang kepada orang lain untuk memberitahu, mengubah sikap, pendapat, atau perilaku, baik secara lisan (langsung) ataupun tidak langsung (melalui media).
Analisis Pengertian Komunikasi Dan 5 (Lima) Unsur Komunikasi Menurut Harold Lasswell Sat, 10/11/2007 – 6:54pm — Rejals Analisis Definisi Komunikasi Menurut Harold Lasswell.
Komunikasi pada dasarnya merupakan suatu proses yang menjelaskan siapa? mengatakan apa? dengan saluran apa? kepada siapa? dengan akibat atau hasil apa? (who? says what? in which channel? to whom? with what effect?). (Lasswell 1960).
Komunikasi adalah sebuah cara yang digunakan sehari-hari dalam menyampaikan pesan/rangsangan (stimulus) yang terbentuk melalui sebuah proses yang melibatkan dua orang atau lebih. Dimana satu sama lain memiliki peran dalam membuat pesan, mengubah isi dan makna, merespon pesan/rangsangan tersebut, serta memeliharanya di ruang publik. Dengan tujuan sang “receiver” (komunikan) dapat menerima sinyal-sinyal atau pesan yang dikirimkan oleh “source” (komunikator).
Berdasarkan pengertian di atas, pada dasarnya komunikasi merupakan sebuah kegiatan menyampaikan informasi dari pihak satu ke pihak lain. Mengacu pada teori lasswell bahwa komunikasi pada dasarnya menggunakan media dalam proses penyampainnya.
Media komunikasi terdiri dari 3 jenis, diantaranya; media komunikasi audio, media komunikasi visual, dan media komunikasi audio-visual. Media komunikasi audio merupakan alat komunikasi yang dapat ditangkap oleh pendengaran seperti radio, telephone, atau rekaman. Sedangkan media komunikasi visual merupakan alat komunikasi yang dapat ditangkap oleh penglihatan seperti gambar bergerak maupun gambar tidak bergerak. Dan terakhir media komunikasi audio-visual merupakan alat komunikasi yang dapat ditangkap oleh penglihatan dan pendengaran seperti televisi.
Berdasarkan pengertian di atas, peran media komunikasi sangatlah penting keberadaanya, karena dengan media komunikasi dapat mempermudah proses penyampaian informasi dari komunikator ke komunikan. Sebagai contoh adalah fotografi. Fotografi merupakan media komunikasi yang bersifat visual. Menyajikan sebuah rekaman kejadian berupa gambar-gambar visual, yang memberi komunikan sebuah gambaran nyata tentang suatu kejadian atau moment.
Dari jaman dahulu hingga sekarang, fotografi memiliki nilai keunikan tersendiri di dunia komunikasi. Fotografi memudahkan manusia untuk mengamati tentang sesuatu. Dengan gambaran yang akurat dan sulit dimanipulasi. Mesikupun pada kenyataannya fotografi dapat dimanipulasi diakibatkan kecanggihan tekhnologi.
Berdasarkan pendahuluan tersebut, menarik untuk dibahas mengenai media komunikasi visual yaitu fotografi.

PEMBAHASAN
Pengertian Fotografi
Fotografi’ berasal dari dua kata “foto” dan “grafi” yang dalam bahasa Yunani, foto berarti cahaya dan grafi berarti menulis atau melukis, sehingga “fotografi” dapat diartikan sebagai “melukis dengan cahaya”. Dalam fotografi, kehadiran cahaya adalah mutlak perlu, karena mulai dari pemotretan hingga pencetakan film menjadi foto, keduaduanya membutuhkan cahaya.
Fotografi berarti proses atau metode untuk menghasilkan gambar atau foto dari suatu obyek dengan merekam pantulan cahaya yang mengenai obyek tersebut pada media yang peka cahaya. Alat paling populer untuk menangkap cahaya ini adalah kamera. Tanpa cahaya, tidak ada foto yang bisa dibuat.
Untuk menghasilkan intensitas cahaya yang tepat untuk menghasilkan gambar, digunakan bantuan alat ukur berupa lightmeter. Setelah mendapat ukuran pencahayaan yang tepat, seorang fotografer bisa mengatur intensitas cahaya tersebut dengan mengubah kombinasi ISO/ASA (ISO Speed), Diafragma (Aperture), dan Kecepatan Rana (Speed). Kombinasi antara ISO, Diafragma & Speed disebut sebagai pajanan (Exposure). Di era fotografi digital dimana film tidak digunakan, maka kecepatan film yang semula digunakan berkembang menjadi Digital ISO.

Sejarah Fotografi 
Menurut catatan sejarah, asal muasal fotografi “ditemukan” secara kebetulan oleh Ibn Al Haitam pada abad ke-10, bahwa pada salah satu dinding tendanya terlihat suatu gambar, yang setelah diselidiki ternyata berasal dari sebuah lubang kecil pada dinding tenda yang berhadapan di dalam tendanya itu. Ternyata pula bahwa gambar tersebut sama dengan pemandangan yang berada di luar tenda, hanya posisinya terjungkir balik, pohon-pohon kurma dengan daun-daunnya berada di bawah, sedangkan badan/batang dan tanah berada di atas (hal ini kemudian diketahui berdasarkan cahaya selalu melintas lurus, sesuai ilmu alam).
Pada abad ke-13, Roger Bacon juga ‘memergoki’ hal serupa di ruang kerjanya; namun baru pada abad ke-15, Leonardo da Vinci memanfaatkan fenomena alam tersebut untuk tujuan-tujuan yang bermanfaat. Ciptaannya yang terkenal adalah CAMERA OBSCURA (camera=kamar ; obscura=gelap), merupakan cikal bakal kamera yang kita kenal sekarang (penyebutan ‘kamera’ berarti kamera-foto, kamera untuk membuat foto/memotret), tetapi di saat itu, camera obscura betul-betul berupa sebuah kamar gelap dengan salah satu dindingnya dibuatkan sebuah lubang kecil, kemudian di tengah ruang didirikan “dinding” lain dari kertas setengah tembus cahaya untuk menampung gambaran yang tercipta dan berasal dari lubang kecil tersebut, untuk kemudian dijiplak dengan menggunakan alat tulis. Dari kamar gelap tersebut, kemudian diciptakan “kamar gelap” miniatur yang lebih praktis. Pada bagian yang berlubang ditambahkan sebuah lensa, di bagian dalam dipasangkan selembar cermin dengan posisi 45 derajat untuk memantulkan gambaran yang tercipta oleh lensa ke arah atas yang ditutupi selembar kaca bening. Penjiplakan gambar menjadi lebih praktis, juga berkat dipergunakannya sebuah lensa, gambar yang terbentuk menjadi lebih kecil dari wujud aslinya, malah dengan memaju-mundurkan posisi lensa, ketajaman gambar dapat diatur sesuai jarak sasaran terhadap “kamar gelap” tersebut.
Kamera lubang jarum dan daguerrotype Perkembangan lain dari camera obscura yang diminiaturkan adalah kamera lubang jarum (pinhole camera). Kamera ini berupa sebuah kotak dengan salah satu dindingnya dilubangi, dan pada dinding seberangnya dipasangkan kaca buram untuk melihat gambar yang terbentuk. Kemudian lubang tersebut dipasangkan sebuah lensa untuk meningkatkan mutu gambar. Dengan hanya berpegang pada fenomena alam, fotografi takkan mencapai tujuan. Berkat penemuan Heinrich Schulze (1727) mengenai bahan-bahan tertentu, misalnya garam perak yang peka terhadap cahaya, dan warnanya yang semula putih dapat berubah menjadi hitam bila terkena cahaya, fotografi mulai menapak ke arah yang dituju.
Berbagai penelitian dilakukan mulai pada awal abad ke-17 ,seorang ilmuwan berkebangsaan Italia – Angelo Sala menggunakan cahaya matahari untuk merekam serangkaian kata pada pelat chloride perak. Tapi ia gagal mempertahankan gambar secara permanen. Sekitar tahun 1800, Thomas Wedgwood, seorang berkebangsaan Inggris bereksperimen untuk merekam gambar positif dari citra pada kamera obscura berlensa, hasilnya sangat mengecewakan. Humphrey Davy melakukan percobaan lebih lanjut dengan chlorida perak, tapi bernasib sama juga walaupun sudah berhasil menangkap imaji melalui kamera obscura tanpa lensa.
Akhirnya, pada tahun 1824, seorang seniman lithography Perancis, Joseph-Nicephore Niepce (1765-1833), setelah delapan jam meng-exposed pemandangan dari jendela kamarnya, melalui proses yang disebutnya Heliogravure (proses kerjanya mirip lithograph) di atas pelat logam yang dilapisi aspal, berhasil melahirkan sebuah gambar yang agak kabur, berhasil pula mempertahankan gambar secara permanen. Ia melanjutkan percobaannya hingga tahun 1826, inilah yang akhirnya menjadi sejarah awal fotografi yang sebenarnya. Foto yang dihasilkan itu kini disimpan di University of Texas di Austin, AS.
Penelitian demi penelitian terus berlanjut hingga pata tanggal tanggal 19 Agustus 1839, desainer panggung opera yang juga pelukis, Louis-Jacques Mande’ Daguerre (1787-1851) dinobatkan sebagai orang pertama yang berhasil membuat foto yang sebenarnya: sebuah gambar permanen pada lembaran plat tembaga perak yang dilapisi larutan iodin yang disinari selama satu setengah jam cahaya langsung dengan pemanas merkuri (neon). Proses ini disebut daguerreotype. Untuk membuat gambar permanen, pelat dicuci larutan garam dapur dan asir suling. Januari 1839, Daguerre sebenarnya ingin mematenkan temuannya itu. Akan tetapi, Pemerintah Perancis berpikir bahwa temuan itu sebaiknya dibagikan ke seluruh dunia secara cuma-cuma.
 
Fotografi kemudian berkembang dengan sangat cepat. Melalui perusahaan Kodak Eastman, George Eastman mengembangkan fotografi dengan menciptakan serta menjual roll film dan kamera boks yang praktis, sejalan dengan perkembangan dalam dunia fotografi melalui perbaikan lensa, shutter, film dan kertas foto.
Tahun 1950, untuk memudahkan pembidikan pada kamera Single Lens Reflex maka mulailah digunakan prisma (SLR), dan Jepang pun mulai memasuki dunia fotografi dengan produksi kamera Nikon yang kemudian disusul dengan Canon. Tahun 1972 kamera Polaroid temuan Edwin Land mulai dipasarkan. Kamera Polaroid mampu menghasilkan gambar tanpa melalui proses pengembangan dan pencetakan film.

Fotografi dalam Dunia Komunikasi
Kemajuan teknologi komunikasi menjadikan suatu sarana untuk menjembatani suatu pesan ketika kebutuhan akan informasi dirasakan semakin meningkat dan tidak lagi dapat diatasi dengan komunikasi antar personal. Informasi harus sampai pada khalayak secara cepat dan menyebar seluas-luasnya, hal ini yang melahirkan konsep media massa yang memiliki ciri-ciri komunikatornya terlembaga, bersifat satu arah, pesannya bersifat umum, menimbulkan kesepakatan dari komunikan heterogen. Sejak kebutuhan itu lahir mediapun hadir dengan berbagai jenis, media massa elektronik dan media massa cetak. Sebagaimana Astrid Susanto yang dikutip oleh Onong Uchjana Effendy, mengatakan bahwa: “Media massa memungkinkan komunikasi berlangsung dalam jarak jauh; media tersebut adalah alat yang ditempatkan dalam proses komunikasi untuk melipatgandakan tulisan (surat kabar) atau menerjemahkan ke dalam pemandangan dan pendengaran (televisi, film) atau pendengaran saja (radio)” (Effendy, 1987: 14)
Seiring berkembangnya teknologi dan jaman, maka kebutuhan manusia untuk mendapatkan informasi-informasi yang up to date dan aktual juga semakin meningkat. Informasi-informasi ini biasanya didapat dari berbagai sumber, salah satunya media massa. Media massa merupakan saluran atau sarana yang dipergunakan dalam proses komunikasi massa. Komunikasi massa itu sendiri menurut Asep Syamsul M. Romli dalam bukunya Jurnalistik Terapan adalah singkatan dari komunikasi media massa, artinya penyampaian pesan, gagasan, atau informasi yang ditunjukkan kepada orang banyak melalui media massa (communicating with media). Berkembangnya teknologi komunikasi membuat masyarakat modern lebih mantap menatap komunikasi. Dalam ilmu komunikasi, Marshall Mcluhan (1964) mengisyaratkan bahwa teknologi komunikasi itu lebih penting daripada isi media komunikasi.
Komunikasi merupakan salah satu proses sosial yang sangat mendasar dan vital dalam kehidupan manusia, mendasar karena setiap orang dalam kehidupannya selalu berkeinginan untuk mempertahankan suatu persetujuan mengenai berbagai aturan sosial melalui komunikasi. Komunikasi berlangsung untuk menjalin hubungan antar individu, individu dengan kelompok, dan kelompok dengan kelompok. Melalui komunikasi manusia dapat saling bertukar pesan dan informasi.
Komunikasi mengandung tujuan tertentu, dilakukan secara lisan, melalui tatap muka atau media. Hal ini berarti bahwa komunikasi dilakukan dengan perencanaan. Perencanaan bergantung pada pesan yang akan dikomunikasikan dan komunikan yang dijadikan sasaran pesan tersebut. Hal itu terjadi taklepas dari dorongan naluri manusia yang slalu ingin tahu akan segala sesuatu hal.
Sebagai makhluk sosial manusia membutuhkan komunikasi sebagai alat vital dalam kehidupan. Komunikasi dibutuhkan sebagai suatu alat dalam menyamakan persepsi. Agar proses komunikasi dapat berjalan lancar diperlukan kecakapan dan kemahiran dalam berkomunikasi yang ditunjang dengan fasilitas dan sarana yang berguna untuk mempermudah proses komunikasi itu sendiri terutama pada komunikasi secara tidak langsung atau jarak jauh dimana perbedaan ruang dan waktu menjadi kendala utama.
Menurut Ploman (1981) dalam buku Teknologi Komunikasi dalam Perspektif Latar Belakang dan perkembangannya, oleh Zulkarimein Nasution, kemajuan teknologi komunikasi di tandai tiga karakteristik, yaitu :
  • Tersedianya keluwesan dan kesempatan memilih diantara berbagai metoda dari alat untuk melayani kebutuhan manusia dalam komunikasi. Bila pada masa lalu hanya ada peralatan berat, yang professional dan mahal, kini kita bisa memilih sendiri tingkat teknologi yang kita perlukan. 
  •  Kemungkinan mengkombinasi teknologi, metoda dan sistem yang berbeda dan terpisah selama ini. Berbagai bentuk baru transfer komunikasi dan informasi telah dimungkinkan dengan pengkombinasian tersebut. 
  • Kecenderungan kearah desentarlisasi, individualisasi dalam konsep dan pola pemakaiaan komunikasi. 
Media massa disebut sebagai “kekuatan keempat” (The Fourth Estate) setelah lembaga eksekutif, legislatif, dan yudikatif, karena pengaruhnya terhadap massa (dapat memebentuk opini publik). Seiring meningkatnya kebutuhan manusia akan informasi membuat media komunikasi massa memaksa para pelaku pers untuk berlomba-lomba dalam menyajikan atau menyuguhkan sebuah informasi menarik, aktual, faktual serta berkualitas untuk di konsumsi oleh khalayak luas.
Penyajian berita yang berkualitas akan menimbulkan manfaat yang sangat berguna bagi pembacanya sendiri, Persaingan ini secara langsung memberikan efek pada kualitas berita yang disampaikan. Mengingat betapa pentingnya hal itu, maka sudah sewajarnyalah ketika para pelaku pers banyak melakukan usaha untuk meningkatkan kualitas pemberitaannya.
Mereka berusaha agar informasi yang diberikan kepada pembaca tidak basi. Seperti yang dikatakan oleh Effendy dalam bukunya “Ilmu, Teori, dan Filsafat Komunikasi”, bahwa: Pers adalah sarana yang menyiarkan produk jurnalistik.
Fungsi pers berarti fungsi jurnalistik (Effendy,2003:93) Pers bukan hanya sebagai sarana untuk menyiarkan atau menginformasikan produk jurnalistik saja. Pers juga memiliki fungsi-fungsi lain. Seperti yang dikatakan oleh Effendy dalam bukunya Ilmu, Teori Dan Filsafat Komunikasi Bahwa: Pada Zaman modern seperti sekarang ini, jurnalistik tidak hanya mengelola berita saja, tetapi juga aspek-aspek lain untuk isi surat kabar. Karena itu fungsinya bukan lagi menyiarkan informasi, tetapi juga mendidik, menghibur dan mempengaruhi agar khalayak melakukan kegiatan tertentu. (Effendy,2003:93)
Mengacu pada surat kabar yang berfungsi sebagai sarana pendidikan, menyiarkan serta hiburan, tentunya memiliki suatu kelebihan yang menimbulkan ketertarikan pembacanya, seperti isi berita, artikel dan foto berita. Hal ini ditegaskan oleh Keith P.Sender dalam buku Riset Fotografi karangan Didik Budianto, ”menyebutkan hasil penelitian halaman-halaman yang penuh dengan foto mendapatkan gejala 80% perhatian pembaca, dan sisanya rata-rata 60%”.(Riset Fotografi, Didik Budianto).
Adanya sebuah foto dalam sebuah berita menimbulkan ketertarikan pembaca dalam menikmati informasi yang disuguhkan media massa cetak sehingga menimbulkan kesan bagi pengamatnya atau pembacanya.
Sementara Zoelferdi, wartawan dan Fotografer Tempo, memiliki pandangan sendiri tentang kesan itu, yaitu : ”jalinan perkerabatan antara surat kabar dan televisi sudah kian kita sadari, sajian televisi boleh dikatakan sebagai pembuka selera makan publik’ namun dari media cetaklah mereka mendapatkan santapan yang sebenarnya. Suguhan televisi memang dapat dikatakan menggigit, tetapi berlangsung cepat sehingga apa yang ditampilkannya tidak tertahan dalam lubuk hati kita sebagai mana yang dilakukan fotofoto”(Zoelferdi,2001:71) 

Sebuah foto berita memiliki kemampuan menyajikan secara rinci, langsung dan penikmatnya tak memerlukan proses penguraiaan pemikiran seperti halnya berita tulis. Karena itu foto memiliki sifat jujur, tanpa menambahkan atau mengurangi detil suatu kejadian.
Sebuah foto dapat berdiri sendiri, tapi media cetak tanpa foto rasanya kurang lengkap, mengapa foto begitu penting ? Karena foto merupakan salah satu media visual untuk merekam/mengabadikan atau menceritakan suatu peristiwa. Seperti yang di katakan oleh Kartono Ryadi : “Semua foto pada dasarnya adalah dokumentasi dan foto jurnalistik adalah bagian dari foto dokumentasi” (Kartono Ryadi, Editor foto harian Kompas).
Fotografi merupakan salah satu bentuk komunikasi nonverbal, yaitu komunikasi dengan menggunakan gambar. Fotografi adalah bentuk ekspresi seorang fotografer terhadap apa yang dilihatnya/diabadikannya yang dikomunikasikan dengan gambar pada khalayak. (Audi Mirza Alwi. Fotojurnalistik. 2002 - 12).
Foto jurnalis merupakan bentuk upaya dalam menceritakan atau menggambarkan, keadaan, benda, atau apa pun, yang pada hakikatnya adalah mengkonstruksikan realitas dari sebuah pemberitaan. Foto jurnalis terletak pada pilihan, membuat foto jurnalis berarti memilih foto mana yang cocok. ( ex: di dalam peristiwa pernikahan, dokumentasi berarti mengambil/memfoto seluruh peristiwa dari mulai penerimaan tamu sampai selesai, tapi seorang wartawan foto hanya mengambil yang menarik, apakah public figure atau saat pemotongan tumpeng saat tumpengnya jatuh, khan menarik) hal lain yang membedakan antara foto dokumentasi dengan foto jurnalis hanya terbatas pada apakah foto itu dipublikasikan (media massa) atau tidak.
Selain dari itu keberadaan foto jurnalis taklepas dari unsur berita dan kualitas dari sebuah foto, seprti yang dikatakan Sukantendel dalam Pratikto : ”Selain memperhatikan unsur-unsur tersebut, dalam menghasilkan sebuah foto berita diperlukan teknik pengambilan gambar, dengan tujuan agar dapat menghasilkan  sebuah foto berita yang layak untuk diterbitkan, terkadang sebuah foto berita tak lepas dari unsur estetik, dan keindahan” (Sukatendel, dalam pratikto, 1987 : 201)
Selain kualitas foto berita, pelaku pers juga harus memikirkan informasi yang disuguhkan sesuai dengan apa yang diharapkan pembaca. Media juga harus menyuguhkan berita yang berkualitas, memikirkan dengan cermat mengenai nilai berita. Sebagaimana Hikmat Kusumaningrat dan Purnama Kusumaningrat dalam bukunya “Jurnalistik Teori dan Praktik”, telah mengungkapkan tentang 4 unsur nilai berita, di antaranya:
a.    Aktualitas (Timeliness)
Berita tak ubahnya seperti es krim yang gampang meleleh, bersamaan dengan berlalunya waktu nilainya pun semakin berkurang. Bagi surat kabar, semakin aktual berita-beritanya semakin tinggi pula nilai beritanya.
b.    Kedekatan (Proximity)
Peristiwa yang mengandung unsur kedekatan dengan pembaca akan menarik perhatian. Stieler dan Lippmann menyebutnya dengan istilah kedekatan secara geografis. Unsur ini tidak harus dalam pengertian fisik saja, tetapi bisa pula dalam bentuk kedekatan emosional.
c.    Dampak (Consequence)
Seringkali pula diungkapkan bahwa “news” itu adalah “history in a hurry”, berita adalah sejarah dalam keadaannya yang tergesa-gesa. Tersirat dalam ungkapan itu pentingnya mengukur luasnya dampak dari suatu peristiwa.
d.   Human Interest
Definisi mengenai human interest senantiasa berubah-ubah menurut redaktur suratkabar masing–masing dan menurut perkembangan zaman, tetapi dalam berita human interest terkandung unsur yang menarik simpati, simpati yang menggugah perasaan khalayak yang membacanya (Kusumaningrat, 2005:61-64).
Mengacu pada unsur berita, Media massa dituntut berperan dalam meningkatkan kualitas foto berita agar sesuai dengan harapan pembaca tanpa melepaskan unsur dari sebuah berita. Media massa harus mampu mengemas sebuah berita semenarik mungkin agar pembaca tertarik dan memahami berita tersebut.

KESIMPULAN
Berdasarkan pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa fotografi dalam dunia komunikasi penting adanya, seperti foto yang terdapat di media cetak. Adanya sebuah fotografi dalam sebuah berita menimbulkan ketertarikan pembaca dalam menikmati informasi yang disuguhkan media massa cetak sehingga menimbulkan kesan bagi pengamatnya atau pembacanya. Sebuah fotografi dapat berdiri sendiri, tapi media cetak tanpa fotografi rasanya kurang lengkap, karena fotografi merupakan salah satu media visual untuk merekam/mengabadikan atau menceritakan suatu peristiwa. Dengan keakuratan gambar yang direkam membuat komunikan mudah untuk menggambarkan suatu informasi.

DAFTAR PUSTAKA

Audy Mirza Alwi, 1987, Foto Jurnalistik, Metode Memotret dan Mengirim Foto ke Media Massa, Jakarta: Bumi Aksara.
Onong Uchjana Effendy, 2003, Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek, Bandung: Remaja. Rosdakarya.
Kusumaningrat, 2005, Jurnalistik Teori dan Praktik. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Lasswell, Harold. 1960. The Structure and Function of Communication in Society, dalam Mass Communications, a Book of Readings Selected and Edited by the Director of the Institute for Communication Research at Stanford University, Urbana: University of Illinois Press.
Zulkarimen Nasution, 1990, Prinsip-prinsip Komunikasi untuk Penyuluhan, Jakarta: Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.
Riyono Pratikto, 1987, Berbagai Aspek Komunikasi, Bandung: Remaja Rosdakarya.
Zoelverdi, 1985, Mat Kodak: Melihat untuk Berjuta Mata, Jakarta: Gramedia.

1 komentar: