PENTINGNYA FOTOGRAFI DALAM DUNIA KOMUNIKASI
Oleh: Ramdan Junaeni
PENDAHULUAN
Komunikasi
merupakan suatu proses penyampaian informasi (pesan, ide, gagasan)
dari satu pihak kepada pihak lain. Pada umumnya, komunikasi dilakukan secara
lisan atau verbal yang dapat dimengerti oleh kedua belah pihak. Menurut Onong
Uchjana Effendy, Komunikasi adalah proses penyampaian pesan oleh
seseorang kepada orang lain untuk memberitahu, mengubah sikap, pendapat, atau
perilaku, baik secara lisan (langsung) ataupun tidak langsung (melalui media).
Analisis
Pengertian Komunikasi Dan 5 (Lima) Unsur Komunikasi Menurut Harold Lasswell
Sat, 10/11/2007 – 6:54pm — Rejals Analisis Definisi Komunikasi Menurut Harold
Lasswell.
Komunikasi
pada dasarnya merupakan suatu proses yang menjelaskan siapa? mengatakan apa?
dengan saluran apa? kepada siapa? dengan akibat atau hasil apa? (who? says
what? in which channel? to whom? with what effect?). (Lasswell 1960).
Komunikasi
adalah sebuah cara yang digunakan sehari-hari dalam menyampaikan
pesan/rangsangan (stimulus) yang terbentuk melalui sebuah proses yang
melibatkan dua orang atau lebih. Dimana satu sama lain memiliki peran dalam
membuat pesan, mengubah isi dan makna, merespon pesan/rangsangan tersebut,
serta memeliharanya di ruang publik. Dengan tujuan sang “receiver” (komunikan)
dapat menerima sinyal-sinyal atau pesan yang dikirimkan oleh “source”
(komunikator).
Berdasarkan pengertian
di atas, pada dasarnya komunikasi merupakan sebuah kegiatan menyampaikan
informasi dari pihak satu ke pihak lain. Mengacu pada teori lasswell bahwa
komunikasi pada dasarnya menggunakan media dalam proses penyampainnya.
Media komunikasi
terdiri dari 3 jenis, diantaranya; media komunikasi audio, media komunikasi
visual, dan media komunikasi audio-visual. Media komunikasi audio merupakan
alat komunikasi yang dapat ditangkap oleh pendengaran seperti radio, telephone,
atau rekaman. Sedangkan media komunikasi visual merupakan alat komunikasi yang
dapat ditangkap oleh penglihatan seperti gambar bergerak maupun gambar tidak
bergerak. Dan terakhir media komunikasi audio-visual merupakan alat komunikasi
yang dapat ditangkap oleh penglihatan dan pendengaran seperti televisi.
Berdasarkan pengertian
di atas, peran media komunikasi sangatlah penting keberadaanya, karena dengan
media komunikasi dapat mempermudah proses penyampaian informasi dari
komunikator ke komunikan. Sebagai contoh adalah fotografi. Fotografi merupakan
media komunikasi yang bersifat visual. Menyajikan sebuah rekaman kejadian
berupa gambar-gambar visual, yang memberi komunikan sebuah gambaran nyata
tentang suatu kejadian atau moment.
Dari jaman
dahulu hingga sekarang, fotografi memiliki nilai keunikan tersendiri di dunia
komunikasi. Fotografi memudahkan manusia untuk mengamati tentang sesuatu. Dengan
gambaran yang akurat dan sulit dimanipulasi. Mesikupun pada kenyataannya
fotografi dapat dimanipulasi diakibatkan kecanggihan tekhnologi.
Berdasarkan pendahuluan
tersebut, menarik untuk dibahas mengenai media komunikasi visual yaitu
fotografi.
PEMBAHASAN
Pengertian Fotografi
Fotografi’ berasal dari dua kata “foto” dan “grafi” yang dalam
bahasa Yunani, foto berarti cahaya dan grafi berarti menulis atau melukis,
sehingga “fotografi” dapat diartikan sebagai “melukis dengan cahaya”. Dalam fotografi,
kehadiran cahaya adalah mutlak perlu, karena mulai dari pemotretan hingga
pencetakan film menjadi foto, keduaduanya membutuhkan cahaya.
Fotografi berarti proses atau metode untuk menghasilkan gambar
atau foto dari suatu obyek dengan merekam pantulan cahaya yang mengenai obyek
tersebut pada media yang peka cahaya. Alat paling populer untuk menangkap
cahaya ini adalah kamera. Tanpa cahaya, tidak ada foto yang bisa dibuat.
Untuk menghasilkan intensitas cahaya yang tepat untuk menghasilkan
gambar, digunakan bantuan alat ukur berupa lightmeter. Setelah mendapat ukuran
pencahayaan yang tepat, seorang fotografer bisa mengatur intensitas cahaya
tersebut dengan mengubah kombinasi ISO/ASA (ISO Speed), Diafragma (Aperture),
dan Kecepatan Rana (Speed). Kombinasi antara ISO, Diafragma & Speed disebut
sebagai pajanan (Exposure). Di era fotografi digital dimana film tidak
digunakan, maka kecepatan film yang semula digunakan berkembang menjadi Digital
ISO.
Menurut catatan sejarah, asal muasal fotografi “ditemukan” secara
kebetulan oleh Ibn Al Haitam pada abad ke-10, bahwa pada salah satu dinding
tendanya terlihat suatu gambar, yang setelah diselidiki ternyata berasal dari
sebuah lubang kecil pada dinding tenda yang berhadapan di dalam tendanya itu.
Ternyata pula bahwa gambar tersebut sama dengan pemandangan yang berada di luar
tenda, hanya posisinya terjungkir balik, pohon-pohon kurma dengan daun-daunnya
berada di bawah, sedangkan badan/batang dan tanah berada di atas (hal ini
kemudian diketahui berdasarkan cahaya selalu melintas lurus, sesuai ilmu alam).
Pada abad ke-13, Roger Bacon juga ‘memergoki’ hal serupa di ruang
kerjanya; namun baru pada abad ke-15, Leonardo da Vinci memanfaatkan fenomena
alam tersebut untuk tujuan-tujuan yang bermanfaat. Ciptaannya yang terkenal
adalah CAMERA OBSCURA (camera=kamar ; obscura=gelap), merupakan cikal bakal
kamera yang kita kenal sekarang (penyebutan ‘kamera’ berarti kamera-foto,
kamera untuk membuat foto/memotret), tetapi di saat itu, camera obscura
betul-betul berupa sebuah kamar gelap dengan salah satu dindingnya dibuatkan
sebuah lubang kecil, kemudian di tengah ruang didirikan “dinding” lain dari
kertas setengah tembus cahaya untuk menampung gambaran yang tercipta dan
berasal dari lubang kecil tersebut, untuk kemudian dijiplak dengan menggunakan
alat tulis. Dari kamar gelap tersebut, kemudian diciptakan “kamar gelap”
miniatur yang lebih praktis. Pada bagian yang berlubang ditambahkan sebuah
lensa, di bagian dalam dipasangkan selembar cermin dengan posisi 45 derajat
untuk memantulkan gambaran yang tercipta oleh lensa ke arah atas yang ditutupi
selembar kaca bening. Penjiplakan gambar menjadi lebih praktis, juga berkat dipergunakannya
sebuah lensa, gambar yang terbentuk menjadi lebih kecil dari wujud aslinya,
malah dengan memaju-mundurkan posisi lensa, ketajaman gambar dapat diatur sesuai
jarak sasaran terhadap “kamar gelap” tersebut.
Kamera lubang jarum dan daguerrotype Perkembangan lain dari camera
obscura yang diminiaturkan adalah kamera lubang jarum (pinhole camera). Kamera
ini berupa sebuah kotak dengan salah satu dindingnya dilubangi, dan pada
dinding seberangnya dipasangkan kaca buram untuk melihat gambar yang terbentuk.
Kemudian lubang tersebut dipasangkan sebuah lensa untuk meningkatkan mutu
gambar. Dengan hanya berpegang pada fenomena alam, fotografi takkan mencapai
tujuan. Berkat penemuan Heinrich Schulze (1727) mengenai bahan-bahan tertentu,
misalnya garam perak yang peka terhadap cahaya, dan warnanya yang semula putih
dapat berubah menjadi hitam bila terkena cahaya, fotografi mulai menapak ke arah
yang dituju.
Berbagai penelitian dilakukan mulai pada awal abad ke-17 ,seorang
ilmuwan berkebangsaan Italia – Angelo Sala menggunakan cahaya matahari untuk
merekam serangkaian kata pada pelat chloride perak. Tapi ia gagal
mempertahankan gambar secara permanen. Sekitar tahun 1800, Thomas Wedgwood,
seorang berkebangsaan Inggris bereksperimen untuk merekam gambar positif dari
citra pada kamera obscura berlensa, hasilnya sangat mengecewakan. Humphrey Davy
melakukan percobaan lebih lanjut dengan chlorida perak, tapi bernasib sama juga
walaupun sudah berhasil menangkap imaji melalui kamera obscura tanpa lensa.
Akhirnya, pada tahun 1824, seorang seniman lithography Perancis,
Joseph-Nicephore Niepce (1765-1833), setelah delapan jam meng-exposed
pemandangan dari jendela kamarnya, melalui proses yang disebutnya Heliogravure
(proses kerjanya mirip lithograph) di atas pelat logam yang dilapisi aspal,
berhasil melahirkan sebuah gambar yang agak kabur, berhasil pula mempertahankan
gambar secara permanen. Ia melanjutkan percobaannya hingga tahun 1826, inilah
yang akhirnya menjadi sejarah awal fotografi yang sebenarnya. Foto yang
dihasilkan itu kini disimpan di University of Texas di Austin, AS.
Penelitian demi penelitian terus berlanjut hingga pata
tanggal tanggal 19 Agustus 1839, desainer panggung opera yang juga pelukis,
Louis-Jacques Mande’ Daguerre (1787-1851) dinobatkan sebagai orang pertama yang
berhasil membuat foto yang sebenarnya: sebuah gambar permanen pada lembaran plat
tembaga perak yang dilapisi larutan iodin yang disinari selama satu setengah
jam cahaya langsung dengan pemanas merkuri (neon). Proses ini disebut daguerreotype.
Untuk membuat gambar permanen, pelat dicuci larutan garam dapur dan asir
suling. Januari 1839, Daguerre sebenarnya ingin mematenkan temuannya itu. Akan
tetapi, Pemerintah Perancis berpikir bahwa temuan itu sebaiknya dibagikan ke
seluruh dunia secara cuma-cuma.
Fotografi kemudian berkembang dengan sangat cepat. Melalui
perusahaan Kodak Eastman, George Eastman mengembangkan fotografi dengan
menciptakan serta menjual roll film dan kamera boks yang praktis, sejalan
dengan perkembangan dalam dunia fotografi melalui perbaikan lensa, shutter,
film dan kertas foto.
Tahun 1950, untuk memudahkan pembidikan pada kamera Single Lens
Reflex maka mulailah digunakan prisma (SLR), dan Jepang pun mulai memasuki
dunia fotografi dengan produksi kamera Nikon yang kemudian disusul dengan
Canon. Tahun 1972 kamera Polaroid temuan Edwin Land mulai dipasarkan. Kamera
Polaroid mampu menghasilkan gambar tanpa melalui proses pengembangan dan
pencetakan film.
Fotografi dalam Dunia Komunikasi
Kemajuan
teknologi komunikasi menjadikan suatu sarana untuk menjembatani suatu pesan
ketika kebutuhan akan informasi dirasakan semakin meningkat dan tidak lagi
dapat diatasi dengan komunikasi antar personal. Informasi harus sampai pada
khalayak secara cepat dan menyebar seluas-luasnya, hal ini yang melahirkan
konsep media massa yang memiliki ciri-ciri komunikatornya terlembaga, bersifat
satu arah, pesannya bersifat umum, menimbulkan kesepakatan dari komunikan
heterogen. Sejak kebutuhan itu lahir mediapun hadir dengan berbagai jenis,
media massa elektronik dan media massa cetak. Sebagaimana Astrid Susanto yang
dikutip oleh Onong Uchjana Effendy, mengatakan bahwa: “Media massa memungkinkan
komunikasi berlangsung dalam jarak jauh; media tersebut adalah alat yang
ditempatkan dalam proses komunikasi untuk melipatgandakan tulisan (surat kabar)
atau menerjemahkan ke dalam pemandangan dan pendengaran (televisi, film) atau
pendengaran saja (radio)” (Effendy, 1987: 14)
Seiring
berkembangnya teknologi dan jaman, maka kebutuhan manusia untuk mendapatkan
informasi-informasi yang up to date dan aktual juga semakin meningkat. Informasi-informasi
ini biasanya didapat dari berbagai sumber, salah satunya media massa. Media
massa merupakan saluran atau sarana yang dipergunakan dalam proses komunikasi massa.
Komunikasi massa itu sendiri menurut Asep Syamsul M. Romli dalam bukunya Jurnalistik
Terapan adalah singkatan dari komunikasi media massa, artinya penyampaian pesan,
gagasan, atau informasi yang ditunjukkan kepada orang banyak melalui media
massa (communicating with media). Berkembangnya teknologi komunikasi
membuat masyarakat modern lebih mantap menatap komunikasi. Dalam ilmu
komunikasi, Marshall Mcluhan (1964) mengisyaratkan bahwa teknologi
komunikasi itu lebih penting daripada isi media komunikasi.
Komunikasi
merupakan salah satu proses sosial yang sangat mendasar dan vital dalam kehidupan
manusia, mendasar karena setiap orang dalam kehidupannya selalu berkeinginan untuk
mempertahankan suatu persetujuan mengenai berbagai aturan sosial melalui komunikasi.
Komunikasi berlangsung untuk menjalin hubungan antar individu, individu dengan
kelompok, dan kelompok dengan kelompok. Melalui komunikasi manusia dapat saling
bertukar pesan dan informasi.
Komunikasi
mengandung tujuan tertentu, dilakukan secara lisan, melalui tatap muka atau
media. Hal ini berarti bahwa komunikasi dilakukan dengan perencanaan.
Perencanaan bergantung pada pesan yang akan dikomunikasikan dan komunikan yang
dijadikan sasaran pesan tersebut. Hal itu terjadi taklepas dari dorongan naluri
manusia yang slalu ingin tahu akan segala sesuatu hal.
Sebagai
makhluk sosial manusia membutuhkan komunikasi sebagai alat vital dalam kehidupan.
Komunikasi dibutuhkan sebagai suatu alat dalam menyamakan persepsi. Agar proses
komunikasi dapat berjalan lancar diperlukan kecakapan dan kemahiran dalam berkomunikasi
yang ditunjang dengan fasilitas dan sarana yang berguna untuk mempermudah
proses komunikasi itu sendiri terutama pada komunikasi secara tidak langsung
atau jarak jauh dimana perbedaan ruang dan waktu menjadi kendala utama.
Menurut
Ploman (1981) dalam buku Teknologi Komunikasi dalam Perspektif Latar Belakang
dan perkembangannya, oleh Zulkarimein Nasution, kemajuan teknologi komunikasi
di tandai tiga karakteristik, yaitu :
- Tersedianya keluwesan dan kesempatan memilih diantara berbagai metoda dari alat untuk melayani kebutuhan manusia dalam komunikasi. Bila pada masa lalu hanya ada peralatan berat, yang professional dan mahal, kini kita bisa memilih sendiri tingkat teknologi yang kita perlukan.
- Kemungkinan mengkombinasi teknologi, metoda dan sistem yang berbeda dan terpisah selama ini. Berbagai bentuk baru transfer komunikasi dan informasi telah dimungkinkan dengan pengkombinasian tersebut.
- Kecenderungan kearah desentarlisasi, individualisasi dalam konsep dan pola pemakaiaan komunikasi.
Media
massa disebut sebagai “kekuatan keempat” (The Fourth Estate) setelah
lembaga eksekutif, legislatif, dan yudikatif, karena pengaruhnya terhadap massa
(dapat memebentuk opini publik). Seiring meningkatnya kebutuhan manusia akan
informasi membuat media komunikasi massa memaksa para pelaku pers untuk
berlomba-lomba dalam menyajikan atau menyuguhkan sebuah informasi menarik,
aktual, faktual serta berkualitas untuk di konsumsi oleh khalayak luas.
Penyajian
berita yang berkualitas akan menimbulkan manfaat yang sangat berguna bagi pembacanya
sendiri, Persaingan ini secara langsung memberikan efek pada kualitas berita yang
disampaikan. Mengingat betapa pentingnya hal itu, maka sudah sewajarnyalah
ketika para pelaku pers banyak melakukan usaha untuk meningkatkan kualitas
pemberitaannya.
Mereka
berusaha agar informasi yang diberikan kepada pembaca tidak basi. Seperti yang
dikatakan oleh Effendy dalam bukunya “Ilmu, Teori, dan Filsafat Komunikasi”,
bahwa: Pers adalah sarana yang menyiarkan produk jurnalistik.
Fungsi
pers berarti fungsi jurnalistik (Effendy,2003:93) Pers bukan hanya sebagai
sarana untuk menyiarkan atau menginformasikan produk jurnalistik saja. Pers
juga memiliki fungsi-fungsi lain. Seperti yang dikatakan oleh Effendy dalam
bukunya Ilmu, Teori Dan Filsafat Komunikasi Bahwa: Pada Zaman modern seperti
sekarang ini, jurnalistik tidak hanya mengelola berita saja, tetapi juga
aspek-aspek lain untuk isi surat kabar. Karena itu fungsinya bukan lagi
menyiarkan informasi, tetapi juga mendidik, menghibur dan mempengaruhi agar
khalayak melakukan kegiatan tertentu. (Effendy,2003:93)
Mengacu
pada surat kabar yang berfungsi sebagai sarana pendidikan, menyiarkan serta hiburan,
tentunya memiliki suatu kelebihan yang menimbulkan ketertarikan pembacanya, seperti
isi berita, artikel dan foto berita. Hal ini ditegaskan oleh Keith P.Sender
dalam buku Riset Fotografi karangan Didik Budianto, ”menyebutkan hasil
penelitian halaman-halaman yang penuh dengan foto mendapatkan gejala 80%
perhatian pembaca, dan sisanya rata-rata 60%”.(Riset Fotografi, Didik
Budianto).
Adanya
sebuah foto dalam sebuah berita menimbulkan ketertarikan pembaca dalam menikmati
informasi yang disuguhkan media massa cetak sehingga menimbulkan kesan bagi pengamatnya
atau pembacanya.
Sementara
Zoelferdi, wartawan dan Fotografer Tempo, memiliki pandangan sendiri tentang
kesan itu, yaitu : ”jalinan perkerabatan antara surat kabar dan televisi sudah
kian kita sadari, sajian televisi boleh dikatakan sebagai pembuka selera makan
publik’ namun dari media cetaklah mereka mendapatkan santapan yang sebenarnya.
Suguhan televisi memang dapat dikatakan menggigit, tetapi berlangsung cepat
sehingga apa yang ditampilkannya tidak tertahan dalam lubuk hati kita sebagai
mana yang dilakukan fotofoto”(Zoelferdi,2001:71)
Sebuah
foto berita memiliki kemampuan menyajikan secara rinci, langsung dan penikmatnya
tak memerlukan proses penguraiaan pemikiran seperti halnya berita tulis. Karena
itu foto memiliki sifat jujur, tanpa menambahkan atau mengurangi detil suatu kejadian.
Sebuah
foto dapat berdiri sendiri, tapi media cetak tanpa foto rasanya kurang lengkap,
mengapa foto begitu penting ? Karena foto merupakan salah satu media visual
untuk merekam/mengabadikan atau menceritakan suatu peristiwa. Seperti yang di
katakan oleh Kartono Ryadi : “Semua foto pada dasarnya adalah dokumentasi dan
foto jurnalistik adalah bagian dari foto dokumentasi” (Kartono Ryadi, Editor
foto harian Kompas).
Fotografi
merupakan salah satu bentuk komunikasi nonverbal, yaitu komunikasi dengan
menggunakan gambar. Fotografi adalah bentuk ekspresi seorang fotografer terhadap
apa yang dilihatnya/diabadikannya yang dikomunikasikan dengan gambar pada khalayak.
(Audi Mirza Alwi. Fotojurnalistik. 2002 - 12).
Foto
jurnalis merupakan bentuk upaya dalam menceritakan atau menggambarkan, keadaan,
benda, atau apa pun, yang pada hakikatnya adalah mengkonstruksikan realitas
dari sebuah pemberitaan. Foto jurnalis terletak pada pilihan, membuat foto
jurnalis berarti memilih foto mana yang cocok. ( ex: di dalam peristiwa
pernikahan, dokumentasi berarti mengambil/memfoto seluruh peristiwa dari mulai
penerimaan tamu sampai selesai, tapi seorang wartawan foto hanya mengambil yang
menarik, apakah public figure atau saat pemotongan tumpeng saat tumpengnya
jatuh, khan menarik) hal lain yang membedakan antara foto dokumentasi dengan
foto jurnalis hanya terbatas pada apakah foto itu dipublikasikan (media massa)
atau tidak.
Selain
dari itu keberadaan foto jurnalis taklepas dari unsur berita dan kualitas dari
sebuah foto, seprti yang dikatakan Sukantendel dalam Pratikto : ”Selain
memperhatikan unsur-unsur tersebut, dalam menghasilkan sebuah foto berita diperlukan
teknik pengambilan gambar, dengan tujuan agar dapat menghasilkan sebuah foto berita yang layak untuk
diterbitkan, terkadang sebuah foto berita tak lepas dari unsur estetik, dan
keindahan” (Sukatendel, dalam pratikto, 1987 : 201)
Selain
kualitas foto berita, pelaku pers juga harus memikirkan informasi yang disuguhkan
sesuai dengan apa yang diharapkan pembaca. Media juga harus menyuguhkan berita
yang berkualitas, memikirkan dengan cermat mengenai nilai berita. Sebagaimana Hikmat
Kusumaningrat dan Purnama Kusumaningrat dalam bukunya “Jurnalistik Teori dan Praktik”,
telah mengungkapkan tentang 4 unsur nilai berita, di antaranya:
a. Aktualitas
(Timeliness)
Berita
tak ubahnya seperti es krim yang gampang meleleh, bersamaan dengan berlalunya
waktu nilainya pun semakin berkurang. Bagi surat kabar, semakin aktual berita-beritanya
semakin tinggi pula nilai beritanya.
b.
Kedekatan (Proximity)
Peristiwa
yang mengandung unsur kedekatan dengan pembaca akan menarik perhatian. Stieler
dan Lippmann menyebutnya dengan istilah kedekatan secara geografis. Unsur ini
tidak harus dalam pengertian fisik saja, tetapi bisa pula dalam bentuk
kedekatan emosional.
c.
Dampak (Consequence)
Seringkali
pula diungkapkan bahwa “news” itu adalah “history in a hurry”,
berita adalah sejarah dalam keadaannya yang tergesa-gesa. Tersirat dalam
ungkapan itu pentingnya mengukur luasnya dampak dari suatu peristiwa.
d.
Human Interest
Definisi
mengenai human interest senantiasa berubah-ubah menurut redaktur suratkabar
masing–masing dan menurut perkembangan zaman, tetapi dalam berita human
interest terkandung unsur yang menarik simpati, simpati yang menggugah perasaan
khalayak yang membacanya (Kusumaningrat, 2005:61-64).
Mengacu pada
unsur berita, Media massa dituntut berperan dalam meningkatkan kualitas foto
berita agar sesuai dengan harapan pembaca tanpa melepaskan unsur dari sebuah berita.
Media massa harus mampu mengemas sebuah berita semenarik mungkin agar pembaca
tertarik dan memahami berita tersebut.
KESIMPULAN
Berdasarkan pembahasan di atas dapat
disimpulkan bahwa fotografi dalam dunia komunikasi penting adanya, seperti foto
yang terdapat di media cetak. Adanya sebuah fotografi dalam sebuah berita menimbulkan
ketertarikan pembaca dalam menikmati informasi yang disuguhkan media massa
cetak sehingga menimbulkan kesan bagi pengamatnya atau pembacanya. Sebuah fotografi
dapat berdiri sendiri, tapi media cetak tanpa fotografi rasanya kurang lengkap,
karena fotografi merupakan salah satu media visual untuk merekam/mengabadikan
atau menceritakan suatu peristiwa. Dengan keakuratan gambar yang direkam
membuat komunikan mudah untuk menggambarkan suatu informasi.
DAFTAR
PUSTAKA
Audy Mirza Alwi, 1987, Foto Jurnalistik, Metode Memotret dan Mengirim
Foto ke Media Massa, Jakarta: Bumi Aksara.
Onong Uchjana Effendy, 2003, Ilmu
Komunikasi Teori dan Praktek, Bandung: Remaja. Rosdakarya.
Kusumaningrat, 2005, Jurnalistik Teori dan Praktik. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Lasswell, Harold. 1960. The Structure and Function of Communication in
Society, dalam Mass Communications, a Book of Readings Selected and Edited by
the Director of the Institute for Communication Research at Stanford University,
Urbana: University of Illinois Press.
Zulkarimen Nasution, 1990, Prinsip-prinsip
Komunikasi untuk Penyuluhan, Jakarta: Fakultas Ekonomi Universitas
Indonesia.
Riyono Pratikto, 1987, Berbagai
Aspek Komunikasi, Bandung: Remaja Rosdakarya.
Zoelverdi, 1985, Mat Kodak: Melihat untuk Berjuta Mata, Jakarta:
Gramedia.



mantap makasih mas atas ilmunya
BalasHapus